Langsung ke konten utama

Cerpen

Mereka Lari, Aku di Jeruji
Karya: Ryandita Azlia Putri

“Ayo cepat ciciplah sedikit, kau pasti akan merasa senang,” ujar seorang temanku bernama Roy.
“Apa ini? Alkohol ya?” tanyaku penasaran.
“Ya, ini alkohol, tapi tenang saja kau akan aman,” jawabnya.
“Ah aku tidak mau, ini kan bisa memabukkan,” tegasku.
“Mabuk kalau kau minum banyak, ciciplah sedikit, kalau kau tidak mau menyicipi ini, kau bukan menjadi bagian dari kami! Kau juga tidak keren!” sontaknya.
“Apa katanya aku tidak keren?” kataku dalam hati. Aku lalu berpikir sejenak. Rasa penasaranku akan alcohol mengalahkan rasa takutku.
“Baik-baik aku akan menyicipinya,” kataku pasrah.
Itulah awal percakapan yang membawaku pada penyesalan. Aku, seorang laki-laki, bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut ikal, dengan kacamata yang lumayan tebal. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang yang mengabdi pada Negara. Ya, menjadi seorang Perwira. Tetapi semua itu lenyap seketika, karena ketakutanku pada masa itu.
***
“Bagaimana? Enak kan rasanya? Menyenangkan kan? Membawamu melayang kan? Hahahaha,” katanya sambil tertawa.
“Ya, aku merasa bahagia, seperti melayang di udara. Oh god, bebas sekali. Sungguh aku  tidak pernah merasakan ini sebelumnya.” Aku mabuk. Ya, mabuk.
“Ayo tambah lagi tambah,” teman-temanku yang lain memaksaku untuk meminumnya.
Malam itu, aku sedang bersama teman-temanku di sebuah klub. Awalnya mereka mengajakku untuk belajar kelompok, ya aku memang anak yang rajin juga kutubuku kata mereka. Tanpa ragu, aku ikut dengan mereka.
Saat itu aku masih duduk di tahun terakhir bangku SMA. Saat-saat yang paling menegangkan, memusingkan, dan penuh perjuangan untuk meraih masa depan. Masa-masa remaja yang juga penuh dengan rasa penasaran, ingin tahu dan sedang mencari jati diri. Menjadi remaja keren adalah yang paling diinginkan pada setiap laki-laki seusiaku, begitupun denganku. Ya, aku takut kalau aku tidak menjadi keren di antara teman-temanku. Itulah yang aku pikirkan saat aku dijejalkan segelas alkohol olehnya.
“Kalau kau sudah mencoba yang ini, kau harus mencoba yang lebih membuatmu bahagia, Ren. Nih,” katanya sambil memberiku sebuah permen. Ya, bentuknya Nampak seperti permen. Aku tidak tahu pasti apa itu.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Cobalah ayo dicoba,” mereka menjejalkanku.
Lalu, aku mencobanya. Rasanya luar biasa. Tak pernah aku merasakan sebahagia itu. Tak pernah aku merasakan seperti terbang melayang.
“Sungguh ini luar biasa,” kataku.
“Hahahahaha, kau harus terus memakannya jika kau ingin selalu bahagia, Ren.”
Sungguh aku tidak tahu apa itu. Bentuknya kecil, seperti permen. Rasanya manis, dan… Membuatku jauh lebih bahagia.
“Itu adalah ekstasi, Ren.” Jawab Zein, temanku.
“Apa? Ekstasi? EKSTASI KATANYA?” sontakku dalam hati. Lalu aku pulang ke rumah. Dengan keadaan mabuk dan masih melayang. Bahagia. Aku berhasil menyembunyikan kejadian ini dari orangtuaku. Ah, lagipula mereka pasti tidak menyadarinya, mereka terlalu sibuk mengurusi pekerjaan-pekerjaan mereka yang menyita waktu mereka.
“Den, ayo bangun den, sudah jam 6… Aden harus sekolah…” Suara Bi Inah membangunkan aku dari tidur. Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku terus merasa bergembira, berbicara banyak, dan entah lah aku tak seberapa jelas mengingatnya.
“Aduh, kepalaku… Kepalaku sangat pusing,” keluhku.
“Aden kenapa Den? Aden sakit?” tanya Bi Inah.
“Ah, tak apa Bi, hanya sakit kepala sedikit. Nanti juga sembuh,” jawabku, menutupi. Aku tahu ini pasti efek dari apa yang kuperbuat semalam.
“Baik Den, segeralah bersiap, Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah.”
Aku segera beranjak dari tempat tidurku. Bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku menuju ruang makan untuk melakukan rutinitas tiap pagiku sebelum berangkat. Sarapan pagi bersama Papa dan Mamaku.
“Aduh, aku tidak nafsu makan, Ma.”
“Kamu kenapa sayang? Matamu memerah, kau seperti sedang sakit.” Tanyanya dengan rasa curiga.
Aduh gawat. Aku tidak boleh memberitahu mereka. Aku akan menutupinya.
“Ah, tidak apa-apa Ma, aku sedang sedikit pusing. Tapi, aku tidak nafsu makan Ma, aku berangkat saja ya. Dah Mama, dah Papa.” Tak mau berlama-lama, aku segera pergi meninggalkan mereka.
Rutinitasku seusai pulang sekolah sekarang telah berubah. Teman-temanku, Roy, Zein, Leo dan beberapa lainnya, mengajakku untuk berkumpul di kos-kosan milik Roy. Ya, disana aku belajar banyak tentang beberapa hal yang membuatku menjadi seperti ini. Mereka mengajariku untuk menjadi pecandu narkoba. PECANDU NARKOBA.
“Kau mau suntikan ini, Ren?” tanya Roy.
“Boleh, aku penasaran dengan rasanya.” Jawabku tanpa sadar. Begitu lah kira-kira mereka mengajariku hal-hal baru tentang narkoba.
Kamar kosan milik Roy terbilang kecil, hanya ada satu tempat tidur dan lemari kecil untuk pakaiannya. Banyak suntikan berserakan dimana-mana. Ada botol-botol bekas juga berserakan di lantai. Tumpukan ganja juga ada. Ekstasi, kokain, heroin, morfin, semuanya lengkap. Roy adalah bandar narkoba.
Sore itu kami sedang berpesta di kosan Roy. “Ngiung… ngiung…”
“Astaga itu polisi, polisi! Cepat kita lari dari sini!” Roy berteriak, berputar panik, lalu berhasil kabur bersama beberapa temanku yang lain.
“Tunggu, tunggu, aku sedang menyuntik diriku. Astaga aku tak tahan.” Aku yang saat itu sedang duduk di sudut kamar, sedang memegang suntikan dan menyuntik diriku sendiri. Aku hampir saja mati jika suntikan itu telat untuk kumasukan. Dimana teman-temanku? Sial, mereka telah berlari keluar. “Oh god, teman macam apa kalian?” teriakku.
“Angkat tanganmu!” seorang polisi mengarahkan pistolnya di hadapanku.
“Bukan, bukan aku! Aku hanya pemakai, aku bukan bandarnya. Bandarnya telah lari kabur. Bukan aku!” teriakku melawan. Aku sedikit tak sadar dengan diriku sendiri.
“Jelaskan nanti di kantor polisi!” polisi itu lalu memakaikan borgol di pergelangan tanganku.
Aku dimintai beberapa keterangan oleh polisi, lalu mereka mengambil sampel dari urinku. Aku positif tercatat sebagai pemakai narkoba dalam catatan kepolisian. Kekecewaan orangtuaku menelantarkan diriku. Papa dan Mama tidak mempedulikan aku lagi, mereka sangat marah. Aku tertahan di balik jeruji besi. Ya, hanya aku. Teman-temanku yang lain berhasil lolos. Mereka berhasil menyeretku ke dalam jeruji besi ini. Astaga, aku salah menjadikan mereka sebagai temanku. Sekarang apa yang harus kuperbuat? Penyesalan yang hanya aku rasakan.
Setelah aku keluar dari jeruji besi itu, aku harus menjalani rutinitas di panti rehabilitasi. Ya, agar aku tidak menjadi seorang pecandu narkoba lagi. Awalnya diriku menolak dan kembali pikiranku kepada beberapa obat-obatan itu. Beberapa treatment disuguhkan untukku. Astaga, sungguh berat. Untuk kembali pulih menjadi diriku yang bersih, sangat berat. Orangtuaku tidak akan menganggapku sebagai anaknya sebelum aku dinyatakan benar-benar bersih.
Niatku semakin hari semakin bertambah untuk menjadi lebih baik. Hari-hariku diisi untuk kegiatan yang positif. Mendekatkan diri padaNya adalah satu-satunya yang saat ini dapat membantuku dan mengeluarkan aku dari pikiran obat-obatan itu. Aku tidak sendiri, bersama temanku, Doni, pecandu narkoba yang sedang berjuang juga, kami melalui hari-hari ini bersama di panti rehabilitasi. Tak cukup dengan waktu sebulan, perlu waktu berbulan-bulan untukku juga untuk Doni menjadi benar-benar bersih.

Impianku, cita-citaku menjadi seorang perwira lenyap hanya karena terayu oleh rasa ingin tahuku akan barang-barang keji itu. Aku salah memilih pertemanan. Mereka hanya bersenang-senang, membutuhkanku untuk menjadi korbannya lalu lari meninggalkanku. Saat ini aku telah berhasil melewati masa-masa sulit, aku dan Doni dinyatakan bersih dari narkoba. Pikiranku juga telah bersih. Kekecewaan orangtuaku telah dilupakan oleh mereka, aku kembali hidup dengan mereka. Walaupun aku berhenti dari sekolah, aku tak ingin berlama-lama larut dalam penyesalanku. Aku terus memutar otakku hingga aku berinisiatif untuk membuat sebuah kelompok “Gankoba” atau Gerakan Anti Narkoba. Bersama teman perjuanganku, Doni, yang aku kenal sebagai mantan pecandu narkoba, sepertiku. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam dariku jiwa yang bernyawa penuh dosa Ini hanya sajak yang tak bermakna Kucurahkan hanya untuk menghapus lara Menyampaikan yang tak dapat dirangkai kata dalam bicara Maafkan Daku yang hadir tanpa sengaja Membungkus harap dan memberinya Lalu pergi entah kemana Bukan kuingin sengaja melakukannya Hanya saja Tuhan mengatur takdir kita Untuk berjumpa lalu tiada Semua semata atas skenarionya Sekali lagi maafkan jiwa yang bernyawa penuh dosa ini Sungguh kutak sanggup lagi Semoga kelak kita dipertemukan Bukan untuk disatukan

Kemenangan Awal Dari Perjuangan

Guys..... Assalamualaikum.... Then two days yang udah buat gue deg-degan sudah berlalu... Dimulai dari Senin (8/9). That was the first time of my life I would to debate in front of the 'formal' people. Deg-degan? BANGET. Maybe I'm too over nervous. "I'm out of control", gak tau kemarin itu ngomong apa, gemeteran bgt pas ngomong, fyi, I gak ada bahan buat debat. Ready not ready, I might be ready! Pake gaya stay cool yang udah diajarin aim, then alhamdulillah berhasil :') Walopun pada akhirnya yg banyak berbicara Kak Gayil, -Sang Presos, Presiden Osis- kita, dan gue kebanyakan diem cuma ngebantu, but yaaa tetep aja gue nervous pake banget banget....omg Di depan sudah ada tiga orang panelis dari dewan guru (Miss July, Mr. Kamsuri, then Mr. Sunaryo) dan Sang Moderator, Mr. Hernawan. Yaaaa pertanyaannya memang seputaran visi dan misi, gak jauh-jauh memang dari situ :') Next day... Today... adalah hari dimana diadakannya pemilu Presiden dan Wakil ...

Penggemar Rahasia

By : Rayendap Aku adalah Riana . Umurku 17 tahun dan aku sekarang duduk di bangku SMA 2 Semarang. Aku hobi membuat novel, terkadang novelku disebar oleh salah satu media cetak dan ternyata novelku banyak disukai oleh kalangan muda. ***             Sore hari saat aku meras a jenuh berada di rumah, aku memutuskan untuk pergi ber jalan-jalan sejenak ke taman. Saat aku ingin menduduki salah satu bangku taman, aku melihat sepucuk surat di dalam amplop yang berwarna hijau muda. Saat ku lihat amplop itu, ternyata di amplop tersebut tertera namaku dengan jelas. Lalu a ku buka perlahan amplop tersebut dan aku baca isi lembaran yang ada di dalam amplop hijau muda itu . Ternyata surat itu dari salah satu penggemar ku, dan surat itu berisi :                            ...