By : Rayendap
Aku adalah Riana. Umurku 17 tahun dan aku sekarang duduk di bangku SMA 2
Semarang. Aku hobi membuat novel, terkadang novelku disebar oleh salah satu
media cetak dan ternyata novelku banyak disukai oleh kalangan muda.
***
Sore
hari saat aku merasa jenuh berada di
rumah, aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sejenak ke taman. Saat aku ingin menduduki salah satu bangku taman, aku melihat sepucuk surat
di dalam amplop yang berwarna hijau muda. Saat ku lihat amplop itu, ternyata di
amplop tersebut tertera namaku dengan jelas. Lalu aku buka perlahan amplop tersebut dan aku baca isi
lembaran yang ada di dalam amplop hijau muda itu. Ternyata surat itu dari salah satu penggemar ku, dan surat itu berisi :
Semarang, 03 Agustus 2010
Untuk Riana
Hai
Riana! Aku adalah seorang anak dan
salah satu penggemar berat dari
sekian banyak penggemar dari novel-novelmu. Aku tahu segalanya tentang dirimu. Mulai
dari tanggal lahirmu dan semuanya yang kamu sukai dan yang tidak kamu sukai. Kalau tidak keberatan, aku ingin sekali
bertemu denganmu di taman ini.
Aku ingin melihat wajahmu yang cantik nan jelita secara langsung. Tanggal 05 Agustus 2010, pukul 16.00 di taman ini
dan kamu harus memakai baju, sepatu boots dan tas ransel
berwarna hijau muda yang biasa kamu pakai. Aku tahu bahwa tanggal 05 Agustus itu adalah hari yang
sepesial bagimu. Ya, itu
merupakan hari ulang tahunmu. Aku ingin membuat hari
itu menjadi hari paling berharga bagimu. Oh
iya, aku memberikan kamu sebuah sapu tangan hijau muda, walaupun tak seberapa
nilainya, aku hanya ingin kamu menyimpannya dengan baik dan itu sebagai kado
ulang tahunmu dan tanda sayang
untukmu dariku. Jangan lupa
sapu tangan pemberianku kamu pakai pada saat kita bertemu di taman ini ya! Aku
tunggu!
Salam
manis dariku :
PENGGEMARMU
Setelah
aku membaca surat itu, aku melihat di sekelilingku, tetapi tidak ada satu orang pun yang berada di sini
selain diriku. Aku heran darimana datangnya surat ini dan bagaimana dia bisa
tau aku sedang berada di sini.
Setelah berjalan-jalan di taman, aku
memutuskan untuk pulang ke rumah. Dengan amplop berwarna hijau muda di tanganku.
Aku lalu masuk ke kamarku, kubaca ulang surat dari penggemarku yang berwarna
hijau muda itu. Saat aku membaca surat itu, dengan ekspresi ceria penuh
senyuman.
Dua hari telah
berlalu. Hari yang ku tunggu telah tiba, yaitu hari dimana aku bertemu dengan
seorang penggemarku untuk pertama kalinya. Aku bergegas untuk bersiap-siap. Aku
tidak ingin terlambat sampai di taman. Aku ingat pesan Andy, harus memakai
baju, sepatu boots, tas ransel dan sapu tangan pemberiannya yang berwarna hijau
muda.
Setelah sampai di taman, pukul 15.50. Aku harus menunggu
10 menit untuk menunjukkan jam pukul 16.00. Sepuluh menit telah berlalu, dan
sampai saat ini Andy pun belum kelihatan. Jam menunjukkan pukul 17.00, dan
sampai saat ini pun Andy belum datang ke taman ini. Aku berputar-putar
mengelilingi taman, aku melihat di bawah pohon yang rindang sepucuk surat
berwarna hijau muda. Warna amplopnya sama persis dengan amplop surat yang
diberikan Andy untukku, dan ternyata memang benar, itu adalah surat dari Andy.
Kubuka amplop dan isi surat tersebut, kubaca isinya dan ternyata isinya adalah
:
Semarang,
05 Agustus 2010
Untuk
Namira
Namira,
sebelumnya aku minta maaf denganmu sebesar-besarnya karena aku telah
mengecewakanmu. Aku malu dengan kondisiku dan aku belum siap untuk menemuimu
hari ini. Walaupun kamu tidak melihatku, tetapi aku dapat melihatmu. Kamu
sangat cantik dengan pakaianmu yang serba hijau muda, tak luput juga sapu
tangan pemberianku. Hapuslah air matamu dengan sapu tangan hijau muda
pemberianku, Namira.
Aku mempunyai sebuah novel yang belum sempat aku tulis
sampai selesai. Aku minta tolong kepadamu untuk menyelesaikan novel ini dan kamu
sebarkan novel ini. Kamu dapat mengambilnya di dalam buku diariku. Dan aku
yakin kamu dapat menyelesaikan novel ini.
Salam
manis dariku :
ANDY
Aku
menangis sedih. Pikiranku entah sedang memikirkan apa. Perasaanku kacau.
Tiba-tiba seperti ada seseorang yang menarik bajuku dan
mengajakku pergi ke suatu tempat. Tanpa ku sadari, aku telah berada pada lorong
rumah sakit dan aku sudah berdiri di depan ruang ICU rumah sakit tersebut. Aku
melihat seorang wanita yang menangis.
“Ibu
kenapa menangis?” tanyaku.
“Apakah
kamu Namira?” ibu itu berbalik tanya.
“Iya bu,
saya Namira” jawabku.
“Nak
Namira, saya adalah ibunya Andy” jelas sang ibu.
“Ibu,
mengapa ibu menangis? Dan mengapa ibu ada di rumah sakit ini?” tanyaku dengan
gugup.
“Coba
masuklah ke dalam kamar itu dan lihatlah seorang pasien di dalamnya” suruh sang ibu.
Lalu aku masuk ke dalam ruang ICU, dan aku melihat
seorang pasien laki-laki yang sedang koma.
“Ibu,
siapakah ini?” tanyaku sambil meneteskan air mata
“Itu
adalah Andy, anak ibu” jawab ibunya.
“Ini
Andy?” tanyaku.
“Iya,
ini adalah anak ibu Andy. Ia menderita penyakit kanker otak. Penyakitnya ini
sudah dialami dari sebulan yang lalu” jelas ibunya.
“Lalu,
siapa yang mengirim surat itu kepadaku, bu?” tanyaku kembali.
“Sebelumnya
ibu minta maaf ya nak Namira. Surat yang dikirim kepadamu itu, bukan Andy yang
menulisnya, tetapi ibu yang menulis. Karena pada suatu saat Andy menyuruh ibu
mengirim surat kepadamu. Tadi Andy memaksa ibu untuk mengantarkannya pergi ke
taman untuk melihat dirimu dari kejauhan. Ternyata Andy terjatuh dari kursi
rodanya, sampai dia koma seperti ini. Andy kemarin bilang ke ibu bahwa Andy ingin
kamu membantu meneruskan novel yang belum selesai ia buat. Kamu dapat mengambilnya
di dalam buku diarinya. Dan dia mengizinkan kamu membaca isi buku diari itu”
jawab sang ibu.
Aku mengambil buku diarinya yang ia taruh di ranjang di
dekatnya lalu aku keluar dari ruang ICU, dan kubuka perlahan buku diarinya, selembar
demi selembar aku baca isinya. Aku terharumembacanya sampai aku meneteskan air
mataku. Isi buku diarinya adalah cerita tentang diriku.
Tidak
beberapa lama kemudian, aku mendengar Ibu menangis menjerit. Aku sangat tidak
tega mendengar ibu menangis. Aku lalu masuk kedalam ruang ICU, ternyata Andy
sudah tidak bernyawa lagi. Aku merasa sangat terpukul atas kepergian Andy untuk selama-lamanya. Mengapa baru aku sadari
aku mempunyai seorang penggemar yang sangat-sangat menggemariku di saat ia
sudah tidak bernyawa lagi.
***
“Andy...
terima kasih karena telah mau menjadi penggemar rahasiaku. Aku berjanji aku
pasti akan menyelesaikan novelmu dan aku yakin juga novel ini pasti laku
terjual dan banyak yang menyukainya. Tenang lah di alammu ya Ndy. Doakan semoga
aku berhasil” bisikku kepada Andy sambil mengeluarkan air mata.
Aku
tidak bisa menahan kesedihanku lagi. Aku menangis dan terus menangis saat
mengingat Andy.
Beberapa bulan kemudian....
“Andy...
hari ini aku telah menepati janjiku kepadamu beberapa bulan lalu. Aku telah
menyelesaikan novelmu dan aku telah berhasil mengedarkan novel ini dan banyak
sekali yang menyukai novel ini. Aku sangat senang sekali, Ndy. Aku sangat
merindukanmu. Terima kasih telah menjadi
motivasi untukku selama ini…”
Komentar
Posting Komentar