By:
Rayendap
Suasana ramai pagi ini membuat jantungku berdegup kencang. Di bawah panggung aku duduk di samping mama dan papaku. Tepuk tangan meriah membuatku semakin takut, tegang atau entah apalah itu. “Tuh lihat penampilannya! Kamu harus lebih bagus dari itu!” bisikan mama yang terdengar di telinga kananku menyadarkanku. Aku hanya bisa mengangguk saat itu. “Kini giliran peserta berikutnya dengan nomor urut 27, Rayi Dwi Natasha”. Suara MC yang memanggil namaku dan juga beberapa orang yang bersorak memanggil namaku membuat aku terkejut. Tepuk tangan meriah dari beberapa pendukungku membawaku naik ke atas panggung. Ya, saat ini aku sedang mengikuti perlombaan menyanyi antar sekolah sekota Bogor. Aku terdiam memandangi penonton di depan dengan sebuah microphone di tangan kananku. Musik mulai bermain, akupun bernyanyi dengan penuh penghayatan. Aku menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Perahu Kertas. Akan tetapi, tiba-tiba sekelebatan bayangan masalahku memenuhi pikiran yang membuat aku tidak lagi konsen saat bernyanyi. Musik terus berputar, tetapi aku malah terdiam. Entah apa yang sedang aku alami saat ini. Tepuk tangan yang ramai berubah menjadi kehening seketika dan penuh tanda tanya. Mama menatapku heran dan kelihatannya penuh rasa malu. Musik pun sudah berhenti, tepuk tangan dari pendukungku mengakhiri penampilanku. Aku pun turun dari panggung itu. Di bawah mama sudah menantiku dengan memendam amarah dan malu. Aku duduk di kursi tempatku tadi. Mama menarikku keluar ruangan.
“Kenapa penampilanmu tidak memuaskan? Ayi lihat mama! Ini perlombaan besar seluruh sekolah sekota Bogor! Kamu itu sudah terkenal. Tetapi kenapa akhir-akhir ini penampilanmu mengecewakan? Kamu itu harus menang dan meraih juara umum itu! Awas saja kalau kau tidak memenangkan perlombaan ini! Reputasiku akan hancur!” dengan nada tinggi dan wajah penuh amarah.
Sudah kuduga, mama pasti ingin memarahiku. Aku hanya terdiam. Ya, inilah aku, Rayi Dwi Natasha. Sejak usiaku empat tahun aku memiliki bakat bernyanyi. Orangtuaku menyekolahkan aku di Yayasan Musik International, Primary and Junior High Scool milik keluarga mamaku. Mama terobsesi menjadikanku seorang artis. Setiap ada perlombaan bernyanyi, aku pasti diikut sertakan oleh mama. Setiap perlombaan yang aku ikuti, aku pasti memegang juara pertama atau setidaknya mendapatkan juara ketiga. Namaku sudah terkenal dimana-mana. Mama selalu memaksaku untuk berlatih dan terus berlatih mengembangkan bakatku, yaitu bernyanyi. Mama juga overprotective terhadapku, karena aku anak semata wayang di keluarga ini.
Seiring bertambahnya usiaku sampai saat ini usiaku menginjak 17 tahun. Saat dimana remaja-remaja seusiaku mempunyai kebebasan berekspresi, bergaul dan berkarya. Akan tetapi kebebasan itu tidak berlaku bagi seorang Rayi Dwi Natasha, ya itu aku. Aku masih dalam pengawasan seorang mama. Bagi mama aku masih seperti anak kecil kesayangannya. Kemana-mana aku masih diantar mama. Bergaul pun aku tidak boleh sembarangan. Mama harus tau asal-usul teman-temanku. Jika menurut mama baik, aku boleh berteman dengannya, tetapi jika menurut mama tidak baik, aku dilarang keras berteman dengannya. Alasan mama melakukan itu karena dia tidak mau aku terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Dan terakhir, aku harus menjadi seperti apa yang mama mau. Ya HARUS!
***
Kembali ke suasana perlombaan tadi, tibalah pengumuman pemenang perlombaan. Mulai dari juara harapan sampai juara runner-up disebutkan oleh MC dari hasil para juri. Dan dari sekian banyak nama-nama yang disebutkan oleh MC, tak ada namaku. Aku pun menghela napas dengan wajah penuh kepasrahan. Aku tahu mama pasti akan memarahiku, lagi. Acara perlombaan telah usai, aku papa dan juga mama pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, mama memarahiku.
“Ayi! Mama tidak nyangka kenapa kamu tidak bisa memenangkan perlombaan itu. Itu hanya perlombaan antar sekolah Ayi! Perlombaan besar seprovinsi saja kamu bisa memenangkan juara pertama! Akhir-akhir ini kau tidak menunjukkan kehebatanmu, kau harus terus berlatih! Dengar itu Ayi!” kata mama kepadaku dengan nada suara yang tidak dapat menahan emosinya.
“Ma, sudahlah mungkin anak kita sudah bosan dengan perbuatan yang Mama lakukan itu. Memaksa Ayi mengikuti semua apa yang Mama mau!” kata papa membelaku.
“Pa, Ayi itu sudah terkenal. Dia hanya perlu mengembangkan namanya saja. Sebentar lagi dia akan menjadi artis international layaknya Agnes Monica! Jika dia seperti itu betapa bangganya aku menjadi seorang ibunya!” bantah mama.
“Ma, biarkan Ayi berkarya dengan jalannya dia sendiri bukan dengan paksaan Maa….”
Belum selesai papa berbicara, mama menyela perkataannya.
“Sudahlah Pa, Mama yang lebih banyak tau tentang Ayi dibandingkan Papa. Papa itu tugasnya mencari nafkah buat kami. Bukan mengatur Ayi. Biar Mama saja yang mengurusi Ayi. Mama tau apa yang harus Mama perbuat yang terbaik buat Ayi!” bentak mama kepada papa.
Aku yang duduk di belakang mobil hanya bisa terdiam. Suasana di mobil saat itu sedang memanas. Mama sangat egois! Ia mau semua keinginannya tercapai dengan cara apapun. Akan tetapi papa, ia sangat memperhatikanku. Papa dan mama sering berselisih pendapat yang membuat mereka tidak pernah akur, dan itu membuat aku sedih. Kejadian di mobil ini juga membuatku sedih.
Perjalanan dari gedung tempat perlombaan tadi sampai ke rumahku lumayan jauh. Akhirnya aku sampai di rumah tepat pukul 21.00 WIB. Akupun bergegas membersihkan badanku dan beranjak tidur. Akan tetapi ketika aku hendak masuk ke kamar, mama memanggilku.
“Ayi sini kamu!” mama memanggil dari arah ruang keluarga dengan suara agak sedikit lembut.
“Kenapa Ma?” tanyaku dengan nada penuh lelah.
“Duduk kamu! Kenapa akhir-akhir ini kamu memalukan Mama? Kamu sengaja? Iya? Kamu tau gak, nama kamu itu sudah terkenal dikalangan remaja seusiamu di kota ini. Reputasi Mama meningkat. Tapi apa sekarang, nama kamu sudah sedikit hilang, dan reputasi mama terancam hancur! Pokoknya waktu kamu full untuk berlatih bernyanyi!” kata mama.
“Ma, tapi Ayi capek. Ayi capek mengikuti semua kemauan Mama. Ayi mau berkarya dengan cara Ayi sendiri Ma!” jawabku.
“Ayi! Kamu itu anak Mama. Mama berhak mengatur kamu! Kalau kamu tidak mau diatur, kamu pergi saja dari sini dan kamu bukan anak mama! Ngerti kamu!” bentak mama kepadaku.
“Terserah! Ayi capek, Ayi mau tidur!” kataku sambil terbangun dari sofa dan pergi meninggalkan mama menuju ke kamar.
Malam semakin larut tetapi, aku belum juga merasa ngantuk walaupun lelah melandaku. Aku duduk di pojok tempat tidurku. Aku terdiam memikirkan hal-hal yang selalu berada di pikiranku. Tentang mama yang terobsesi menjadikan aku sebagai artis, tentang mama yang overprotective, juga tentang papa dan mama yang selalu bertengkar dan tidak pernah akur.
Kenapa sih mama selalu aja menuntut aku menjadi seperti apa yang dia mau? Aku capek ngikutin semua kemauannya! Papa juga, gak pernah akur dengan mama. Ah aku pusing! gerutuku sendiri.
Aku melihat ke ujung meja. Ada Coki di sana. Coki adalah kura-kura kesayanganku. Dia satu-satunya temanku di rumah ini. Sedih senang aku selalu bercerita kepadanya. Aku pun beranjak dari tempat tidurku menuju meja. Aku duduk di kursi di depan meja.
“Coki… aku pengen cerita nih. Tau gak sih, lama-lama ya aku bisa stres ngadepin mamaku yang overprotective dan terus menuntutku untuk menuruti apa katanya. Aku juga capek dijuluki ANAK MAMI sama temen-temenku. Aku merasa seperti anak kecil, padahal kan aku ini udah berumur 17 tahun. Aku juga sedih, kenapa sih mama sama papa gak pernah akur? Mereka mentingin keegoisan mereka masing-masing! Mereka semua egois! Mereka gak mikirin aku!” kataku bercerita kepada Coki. Tanpa sadar aku mengeluarkan setetes air dari mataku.
Sinar sang fajar menyongsong dari arah jendela kamarku membangunkan aku dari tidur lelapku. Ternyata aku tertidur di atas meja di depan akuarium Coki. Tiba-tiba, terdengar teriakan dari lantai bawah.
“Papa! Siapa perempuan yang ada di hp Papa itu? Pa jawab Pa! Papa selingkuh kan? Iya kan Pa?” teriak mama sambil menangis.
“Sudahlah Ma! Itu bukan urusan Mama! Awas Papa mau meeting dengan client pagi ini” jawab papa sambil memarahi mama.
“Client? Meeting? Alasan!” teriak mama.
*taarrr* sebuah tamparan dari tangan papa mendarat di pipi mama. Mama pun menangis dan papa pergi meninggalkan rumah.
Aku yang mendengar pertengkaran mereka dari dalam kamarku hanya bisa menangis. Papa? Perempuan? Handphone? Selingkuh? Ya tuhan… tidak kusangka Papa yang selalu membelaku berbuat seperti itu terhadap mama.
Setelah kudengar keadaan sudah mulai dingin, aku keluar dari kamar dan turun ke bawah. Kulihat mama yang sedang duduk di teras rumahku. Sepertinya ia sedang menangis. Aku berjalan menuju mama dan bertanya seperti aku tidak tahu apa-apa tentang hal ini.
“Ma? Mama kenapa menangis?” tanyaku pelan.
“Tidak papa Ayi. Mata Mama sedang perih saja. Kamu sudah bangun? Ayi sudah solat?” jawab mama.
Aku tahu pasti mama akan menyembunyikan hal yang tadi kepadaku.
“Sudah Ma, Ayi barusan bangun dan langsung solat” jawabku pelan.
“Bagus. Yaudah sekarang kamu siap-siap. Jam 8 pagi ini Pak Darto akan melatih kamu bernyanyi” kata mama menyuruhku.
Aku mengangguk dan pergi meninggalkan mama sendiri. Lagi dan lagi mama menyuruhku latihan.
Ah kenapa sih latihan lagi latihan lagi. Mama ini gak tahu apa kalau aku bosan. Aaarrrrgggghhhh… gerutuku dalam hati.
*ding dong ding dong* bel rumah berbunyi. Aku tahu itu pasti Pak Darto. Sang guru vocal psikopat – menurutku yang setia melatihku bernyanyi. Mama membukakan pintu dan menyuruhnya langsung masuk menuju ruang berlatih.
Mama memang sengaja menyediakan sebuah ruangan khusus untukku berlatih. Mama memang perhatian, tapi ia memaksa. Dan aku benci itu!
“Ayi…Ayi…cepat turun! Pak Darto sudah menunggu di tempat biasa” teriak mama memanggilku.
“Iya Ma. Bentar” jawabku singkat.
Akupun turun dan menuju ruangan specialku.
“Selamat pagi Pak” kataku menyapa Pak Darto yang sedang menyentuh tuts-tuts pianoku.
“Walah Ayi… Sini Nak. Hari ini kita akan berlatih lagu When You Tell Me That You Love Me” jawab Pak Darto.
“Tapi Pak, itu kan sudah tuntas kemaren?” tanyaku.
“Sudah kita ulang lagi saja. Sebelumnya kita Warming Up Technic” jawab Pak Darto.
aaarrrrggghhhh…… dasar guru psikopat! gerutuku dalam hati.
Setelah dua jam berlalu akhirnya Pak Darto mengakhiri latihan hari ini. Yes! Akupun terbebas! Pak Darto kembali pulang. Aku langsung menuju kamarku. Aku mengirim sebuah pesan ke Rio. Rio itu anaknya teman mamaku. Dia anaknya baik, perhatian lagi, lumayan ganteng, dia pinter banget, pokoknya hampir perfect deh. Dia itu sahabatku dari SMP.
Hari ini aku bosan di rumah. Aku mengajak Rio berjalan-jalan di taman tempat biasa kami hang out. Sekalian aku juga mau cerita semua tentang masalahku. Rio pun bersedia menemaniku. Kami janjian jam 11 di sana. Aku berganti pakaian dan langsung menuju ke mobil.
“Mau kemana kamu Ayi?” tanya mama yang sedang terduduk di kursi teras rumahku.
“Itu Ma, aku pengen pergi ke taman bersama Rio. Gapapa kan ma?” jawabku.
“Oh Rio… bener kamu pergi sama Rio? Gak sama yang lain kan?” tanya mama mendesakku.
“Nggak Mama. Aku beneran. Aku gak bohong. Kalau Mama gak percaya tanya saja sama Rio” jawabku.
“Hmmm… yasudah Mama izinkan. Tapi ingat kamu harus pulang…..”
“Tepat pada waktunya, sebelum maghrib. Tenang Ma aku gak akan pulang malam kok” jawabku menjelaskan.
“Bagus. Ya mama izinkan”
“Terima kasih Mama. Ayi pamit ya. Assalamualaikum” ucapku sambil mencium pipi mama dan pergi meninggalkannya.
“Waalaikumsalam” ucap mama menjawab salamku.
***
Sesampainya aku di taman, ternyata Rio sudah sampai sebelumku.
“Ya kamu telat lima menit” kata Rio sambil menyilangkan tangannya.
“Aduh, maaf maaf... tadi macet banget. Alah cuma lima menit ini kan” jawabku enteng.
“Lima menit itu berharga. Jangan kamu sia-siakan itu!” jawab Rio menjelaskan.
“Iya iya… Eh aku pengen cerita nih. Kita duduk di sana yuk” ajakku.
Kami berjalan menuju bangku yang berada di pojok taman. Aku dan Rio menyukai tempat ini. Karena tempat ini sejuk, asri dan ada danau di sana. Jadi suasananya sejuk banget deh.
Kami pun duduk di bangku itu.
“ Rio, aku pengen cerita nih. Kamu tau kan Mamaku? Mamaku itu super overprotective, dia juga maksa aku untuk jadi artis. Ah pokoknya aku kesel deh!”
“Oh itu, iya iya aku tau kok. Mamaku juga setipe kali sama mama kamu. Tapi ya aku nganggepnya biasa aja. Kalo overprotective itu karena mama kamu sayang sama kamu. Dia gak mau kalau ada hal buruk yang terjadi kepada kamu. Tujuannya baik loh”
“Iya aku tau, tapi bisakan gak usah over gitu. Sampe temen aja dipilihin coba. Aarrrggghhhh”
“Sudahlah ambil positifnya saja. Oke?”
“Rio, aku juga ingin bercerita tentang kejadian tadi pagi yang menimpaku. Tapi, kamu janji ya jangan cerita sama siapa-siapa tentang hal ini? Janji ya?”
“Iya aku janji. Janji neptunus tidak pernah beringkar. Tentang apa itu?”
Aku menceritakan kejadian tadi pagi kepada Rio sambil menangis.
“Ya ampun. Beneran Om Dwi melakukan itu? Tak kusangka. Ya sudah sini bahuku kosong, muatlah dibuat sandaran satu orang, hehe…”
“Ah dasar kamu! Rio kamu mau bantuin aku gak?”
“Bantuin apa? Kalau gampang aku bantu deh, kalau susah aduh sorry deh gak bisa”
“Gak susah kok. Aku cuma pengen cari tau aja siapa perempuan yang ada di foto hp papaku itu. Aku gak tega melihat Mama menangis seperti tadi. Kamu mau kan?”
“Waduhhh… Berani bayar berapa kamu buat jadiin aku detective?”
“Ah jahat ya kamu!”
“Hehehe, nggak lagi aku cuma bercanda. Iya aku mau deh. Tapi, gimana caranya?”
“Besok Papa mau pergi ke Jakarta. Katanya sih mau ada meeting sama perusahaan lain. Tapi aku gak percaya kalau Papa bener-bener meeting. Rencanaku, besok aku pengen ikutin Papa. Kamu mau nemenin kan?”
“Insyallah aku bisa. Apa sih yang gak bisa buat kamu? Hehe”
“Halah gombal! Eh jalan-jalan yuk keliling taman ini”
Kami pun berjalan-jalan menyelusuri taman sambil bercanda, makan es krim, pokoknya kami menghabiskan waktu untuk bersenang senang hari itu sampai waktunya kami harus pulang. Sebelum maghrib kami pun berpisah.
“Makasih ya Rio kamu udah mau nemenin aku seharian ini”
“Dengan senang hati Putri”
“Eh jangan lupa besok ya. Jam 5 pagi kamu harus stand by di rumah samping rumahku! Oke? Sampai ketemu besok”
“Iya cantik. Yaudah hati-hati ya” kata Rio mengakhiri pertemuan kami hari itu.
Kami berdua masuk ke mobil kami masing-masing dan kembali pulang ke rumah.
***
Keesokan harinya. Pagi-pagi buta, sebelum sang fajar menyongsong. Papa sudah rapih ingin pergi keluar kota. Mama sudah tidak mempedulikannya lagi, dan aku sudah siap dan rapih ingin menjadi mata-mata. Rio juga sudah siap berada di depan rumahku. Aku kabur dari luar jendela dan turun dengan tangga. Aku pergi tanpa sepengetahuan mama. Lalu aku masuk ke mobil Rio. Mobil Jazz berwarna hitamnya.
“Rio, Papaku lagi manasin mobil. Beliau sudah siap untuk pergi. Kita harus pelan-pelan ngikutin Beliau. Jangan sampe kita kehilangan jejaknya. Karena aku mau masalah ini selesai secepatnya” kataku sedikit cerewet dan agak sedikit gupek.
“Iya iya cantiiiikk, cerewet deh” jawab Rio agak sedikit jenuh.
Lima menit waktu berlalu, dan akhirnya papa keluar dengan Mobil Alpardh hitam miliknya.
“Rio Rio itu Papa! Ayo cepat nyalakan mobilmu!” sontakku.
“Siap Bu Komandan!”
Lalu Rio menyalakan mobilnya dan menjalankannya mengikuti Papa tepat dibelakangnya. Jalan demi jalan kami lalui. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Tanpa kusadari, saat ini sudah berada di Bandung. Mobil papa pun berhenti di salah satu rumah yang bisa digolongkan rumah mewah. Papa turun dari mobilnya. Kami pun memarkirkan mobil agak jauh di depan rumah orang itu. Papa masuk ke dalam rumah itu. Papa seperti bukan bertamu, tetapi papa layaknya pemilik rumah itu. Aku tahu itu pasti rumah perempuan yang ada di foto di hp papa itu. Akan tetapi, sampai saat ini aku belum mengetahui siapa perempuan itu sebenarnya.
Lima jam berlalu. Papa tak kunjung keluar dari rumah itu. Sedang apa sih dia sebenarnya di dalam? Saking lamanya kami menunggu, Rio tertidur di dalam mobil, tapi aku masih dalam keadaan gelisah penuh tanya. Tiba-tiba gerbang pintu utama rumah itu terbuka. Keluar lah papa dengan seorang perempuan yang dirangkulnya. Aku mengambil foto mereka sebagai bukti, lalu aku membangunkan Rio.
“Rio cepat ikuti mobil papa!” kataku sedikit teriak dan sambil menggoyangkan badannya.
“Ah…aku ngantuk tauu…”
“Ah ayo cepat nyalakan mobilnyaaaa!”
“Iya iya…”
*breeemmmm* suara knalpot racingnya nyaring sekali.
“Ayoo cepet ngebuuuutt!”
“Sabar cerewet, nanti kalo ngebut bisa tabrakan”
“Iya tapi itu nanti kita ketinggalan mobilnya”
“Tenang saja kamu!”
Mobil kami terus melaju mengikuti mobil Papa. Ciiiiitt… tiba-tiba Rio mengerem mendadak. Mobil papa berhenti di salah satu restaurant tempat favorite keluarga kami. Aku semakin memanas melihatnya. Kemesraan Papa dengan orang itu semakin menjadi. Aku dan Rio turun dari mobil dan ikut masuk. Papa dan Tante itu duduk di meja nomor 15. Tiba-tiba Rio terkejut.
“Iii...iii…iiituu kan Mamaku? Mama? Om Dwi?” sontakknya kaget.
Aku bingung. Tadi Rio bilang Mama? Mamanya? Oh my god…
Tanpa basa-basi Rio datang menghampiri Mamanya.
“Mama! Sedang apa Mama disini? Bersama Om Dwi? Ada hubungan apa kalian berdua ini!” sontak Rio dengan penuh amarah.
“Rii…oo… ngapain kamu disini?”
“Mama jangan balik tanya! Jawab pertanyaan Rio! Sedang apa Mama disini dan berduaan dengan Om Dwi?”
“Oh ini, Ma Ma Mama lagi ada meeting dengan Om Dwi”
“Mama jangan bohong sama Rio Ma! Heh Om! Jangan Om macem-macem dengan Mama saya! Mama saya memang janda, tapi Mama bukan sebagai perempuan simpanan”
“Rio, Om tidak ada hubungan apa-apa dengan Mama kamu. Kami cuma rekan bisnis”
“Jangan banyak omong Om! Saya ada buktinya. Rayi sini!” panggil Rio.
Aku pun berjalan menghampiri mereka dari arah belakang. Papa terkejut saat itu.
“Rayi? Oh jadi kalian memata-matai saya? Iya?”
“Papa jahat! Papa sudah menghianati Mama dan Ayi! Ayi benci Papa!”
Aku tak kuat menahan tangis. Aku berlari ke toilet meninggalkan mereka.
Arrrggghhh… Papa jahat Papa jahat! Papa tega berbuat itu kepada kami! Dan kenapa perempuan itu temen Mama sendiri? Ibu dari sahabat yang aku sayangi? Kenapa? Kenapaaa? ucapku sambil menangis terisak-isak.
Ketika kurasa keadaanku sudah seperti biasanya. Aku memberanikan diri untuk pulang ke rumah. Di rumah kulihat Papa memohon meminta maaf kepada Mama.
“Ma, maafkan Papa Ma…. Papa khilaf. Papa khilaf melakukan semua ini. Papa sekarang sadar. Maafkan Papa, Ma maafkan Papa” pinta papa sambil bersujud di kaki mama.
“Gak! Gak ada kata maaf buat Papa! Papa tega ya! Papa tega berbuat semua ini! Papa tega berselingkuh di belakang Mama dengan teman baik Mama sendiri. Papa tega udah menghianati cinta tulus Mama. Tak ada kata maaf bagimu!” jawab mama dengan nada tinggi dan menangis.
“Ma, maafkan Papa”
“Papa, Papa jahat! Papa jahat! Ayi gak nyangka Papa bisa berbuat seperti itu. Kenapa Pa kenapa Papa melakukan semua ini?” tiba-tiba aku datang ditengah-tengah mereka.
“Papa melakukan semua ini karena Mama terlalu sibuk mengurusi kamu! Papa capek selalu bertengkar dengan Mama! Papa ini memang salah. Papa egois. Papa sadari itu! Maafkan Papa Ayi, maafkan Papa!” peluk papa.
“Ayi mau memaafkan Papa. Tapi Papa harus janji gak akan mengulangi kesalahan yang sama. Papa mau berjanji?”
“Papa berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Demi Ayi dan juga Mama”
“Ayi terima permintaan maaf Papa. Ma, maafkan Papa ya ma. Papa itu khilaf juga karena kesalahan Mama yang jarang mempedulikan Papa. Ya Ma maafkan Papa ya Ma” pintaku sambil tersenyum dan mengusap air mata yang jatuh di pipi mama.
“Mama mau memaafkan Papa”
“Beneran Ma? Makasih ya Istriku yang cantik jelita nan mempesona” ucap Papa sambil mencium pipi Mama.
“Maafkan Mama juga ya Pa, karena Mama jarang mempedulikan Papa” kata mama dengan lembut.
“Iya Ma, Papa maafkan kok”
“Nah gitu dong. Ayi kan juga seneng lihat Papa Mama akur. Ayi jadi gak sedih sedih lagi deh” ucapku sambil memeluk Papa dan Mama.
Kejadian malam itu benar-benar membuatku bahagia. Tapi tunggu, bagaimana dengan Rio? Apakah hubungan kami akan tetap berjalan seperti biasanya? Apakah aku masih bisa bersahabat dengannya sejak kejadian tadi pagi? Aku mengirimkan sms kepadanya yang isinya.
Rio? Apakah kamu disana? Maafkan aku ya Rio atas kejadian tadi pagi. Oh iya, makasih ya karena kamu udah bantuin aku menyelesaikan masalahku ini. Rio, kita masih bisa bersahabat kan? Yakan yo? Yo, kalo kamu baca sms ini, bales ya yo. Aku mau kita masih bisa bersahabat lagi. I love you as a best friend. Rayi J
Aku menunggu balasan pesan dari Rio. Akan tetapi, ternyata tak kunjung ada pesan balasannya. Aku sedikit kecewa dan bingung. Apakah benar hubungan persahabatan kami hanya sampai disini? Aku berkali-kali mencoba menelponnya. Tapi hpnya dinon-aktifkan. Rio dimana kamu?
Yup, aku kehilangan satu satunya sahabat terbaikku sejak SMP. Perasaanku galau seketika. Mood-ku berubah menjadi hancur. Aku benar-benar merasa seperti kehilangan sosok yang sangat berarti di hidupku. Tunggu! Rio hanya seorang sahabat, tidak lebih!
Bukan, Rio itu bukan sekedar sahabat, dia adalah kakak angkatku! Aahhhh…
“Coki…Hanya kamu satu-satunya temenku sekarang. Coki aku kehilangan Rio. Sahabat sekaligus kakak angkatku. Aaahhhh… Coki, aku seneng sekarang Mama dan Papa udah baikan. Eh iya, kamu tau gak, tadi kan aku ngikutin Papa, aku lihat Papa sama selingkuhannya. Ternyata selingkuhan Papa adalah Tante Revan, mamanya Rio. Dan itu membuat Rio pergi ninggalin aku. Aaahhh Cokiiii… Aku gak mau Cokiiii…” ucapku bercerita kepada Coki.
Aku galau. Benar-benar galau…
***
Hari demi hari kulalui. Kebahagiaan sudah terpancar di keluarga kami. Walaupun tetap dengan sikap mama yang overprotective kepadaku dan sangat terobsesi menjadikan aku sebagai artis. Ya aku benci menceritakan ini, dan tetap, hubungan aku dan Rio tidak pernah terjalin lagi selama ini. Mama dan mamanya Rio juga tidak dekat lagi. Malah mereka seperti tidak kenal satu sama lain. Ah aku benci jika harus mengingat kejadian pagi itu.
Bulan depan, bulan Agustus. Bulan special bagiku. Tentu saja, itu bulan kelahiranku, dan tepat di tahun ini aku genap berusia 17 tahun.
“Mama cantik… bulan depan kan bulan Agustus nih, kan aku ulangtahun tuh, Sweet seventeen loh Ma…”
“Hmmm, terus?”
“Boleh ya aku ngadain pesta sama temen-temen di Taman Bulgaria? Ya Ma ya boleh ya?”
“Taman Bulgaria? Hmmm, siapa aja temen-temen kamu?”
“Ya temen-temen grup vocal aku, terus temen sekolah musik, temen-temen pilihan Mama itu lah. Aku kan juga home schooling, jadi gak ada temen yang aneh-aneh kok ma. Ya Ma boleh ya Ma?”
“Yaudah boleh. Tapi satu syarat”
“Apa itu ma?”
“Semua persiapan pesta biar mama yang ngatur. Kamu tidak usah ikut campur”
“Yah Mama mah… Aku ini udah gede loh Ma”
“Mau apa nggak? Kalo nggak sih ya gak apa apa”
“Ihh, yaudah deh iya”
“Yaudah sana”
“Iya makasih ya Ma” kataku sambil mencium mama.
Ya walaupun lagi lagi mama yang harus mengambil alih semuanya, tak apalah yang penting sweet seventeen tetap berjalan.
Sebulan kemudian………..
“Oke ini ditarok di sini ya Pak. Kalau yang itu tarok di situ. Semuanya hampir siap”
Tampak mama sibuk menyiapkan segala persiapan untuk pestaku esok.
“Oke, persiapan di sini selesai. Ayi ayo kita langsung ke toko kue, kita beli kue ulangtahun untukmu. Terus kita ke toko bridal, beli gaun untukmu besok. Terus kita ke salon hari ini, kita facial sama creambath sama buat dandanin kamu besok. Yukk kita pergi”
Ya itulah mama. Mama mau anaknya tampil “wah” di acara besok. Mama yang baik.
“Ke toko kue udah. Beli gaun untuk kamu juga udah. Ke salon udah. Saatnya pulang. Capeknya… Tapi gak papa deh demi anak Mama tercinta ini”
“Hehe… yaudah ayuk kita pulang sekarang Ma”
Segala persiapan untuk acara besok sudah siap. Undangan pun sudah selesai aku sebarkan. Tak lupa aku juga mengundang Rio. Pesta besok bertemakan suasana di Paris. Aaaaahh mama tau aja deh apa yang aku mau. Besok taman Bulgaria berubah menjadi taman yang persis ada di Paris. Aku jadi tak sabar.
***
Keesokan harinya…..
Keadaan gupek, ya biasa anak gaul jaman sekarang sih nyebutnya keadaan yang rempong. Aku sih tetep santai aja.
Jreng jreng… tiba saatnya acara pesta tiga jam lagi akan dimulai.
Aku sedang dirias oleh seorang perias. Satu jam lamanya aku dirias, bete sih nungguinnya. Dan setelah selasai, hasilnya wooooww 180 derajat aku berubah.
Setelah selesai dirias, aku, mama, papa langsung menuju tempat acaranya. Wow, indah sekali! Aku merasa seperti berada di Paris sekarang.
Tepat pukul 19.00, saatnya acara dimulai.
Aku senang hampir seluruh teman-temanku datang. Tapi, dimana Rio? Aku berharap dia datang saat ini.
“Oke. Sekarang tiba saatnya peniupan lilin dan pemotongan kue, Rayi Dwi Natasha. Silahkan”
Saatnya peniupan lilin dan pemotongan kue, sampai saat ini Rio belum juga datang. Ya tuhan… aku berharap sekali dia datang. Aku naik ke atas stage ditemani Mama dan Papa. Musik Happy Birthday mengiringi, semua yang ada di sini bernyanyi.
Aku meniup lilin yang berangkakan 17 di atas kue ulangtahun bersusun tiga itu.
Sebelum aku meniup lilin, seperti biasa aku membuat sebuah permintaan.
“Aku berharap Rio ada disini sekarang” ucapku dalam hati dengan mata terpejam penuh harapan. Lalu aku meniup lilin itu. Tiba-tiba dari arah depan stage aku melihat sosok laki-laki berjas hitam, berbaju kemeja biru gelap dan berdasi bermotif bendera Amerika berdiri di belakang. Aku yakin itu pasti Rio. Aku langsung berlari turun dari stage ini menghampiri pemuda itu.
“Rio? Akhirnya kamu datang juga. Aku menunggumu sejak dari tadi” kataku sambil memeluknya.
“Maafkan aku karena aku datang terlambat” jawabnya sambil memelukku erat.
“Iya gak papa kok. Tau gak sih aku ini kangen sama kamu! Kamu tega ya ninggalin aku gitu aja!”
“Maaf. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku hanya tidak percaya tentang kejadian waktu itu”
“Iya, aku juga masih tidak percaya akan hal itu”
“Ya udah sana kamu naik ke atas stage. Acaramu kan belum selesai”
Setelah berbincang sedikit dengan Rio, aku kembali ke atas stage meneruskan acara pemotongan kue. Setelah pemotongan kue, aku membuat sebuah pernyataan.
“Saat ini usiaku sudah 17 tahun, saat dimana remaja-remaja seusiaku diberikan kebebasan. Aku berdiri di sini ingin meminta kepada Mama tercinta yang ada di sampingku saat ini. Mama… Saat ini aku sudah beranjak dewasa. Aku bukan anak kecil lagi yang selalu diawasi oleh seorang ibu kemana-mana. Mama, aku minta beberapa permintaan. Mama jangan jadi Mama yang overprotective, aku juga tidak mau dipaksa menjadi seorang penyanyi, aku juga mau bisa bebas berkreasi, berkarya dan bergaul. Mama mau kan memenuhi permintaanku?” kataku dengan Microphone di depan semuanya.
“Mama… Mama akan mengabulkan permintaanmu. Mama tidak akan menjadi overprotective lagi, mama tidak akan memaksa kamu lagi, dan mama akan membebaskan kamu, selagi kamu bisa menjaga diri kamu” jawab mama sambil terbata-bata dan meneteskan air mata.
“Terima kasih Mama. I love you. You are my everything” kataku sambil mencium pipi Mama dan Papa.
Tamu undangan bertepuk tangan. Semuanya menikmati pesta sampai akhirnya. Dan malam itu menjadi malam yang sangat bahagia bagiku. Semuanya kembali normal dan kebebasan telah kuraih.
Terima kasih semua…………
Komentar
Posting Komentar