By: Rayendap
Aku seorang gadis berumur 20
tahun. Aku dilahirkan oleh seorang ayah dan ibu. Dahulu aku mempunyai seorang
adik perempuan yang usianya 2 tahun lebih muda dariku. Dan saat ini, pada
tanggal 13 Desember ia genap berusia 18 tahun.
***
Dahulu, aku dilahirkan dengan
bentuk badan yang sempurna. Akan tetapi berbeda dengan adikku. Ia dilahirkan
secara tidak sempurna. Adikku dilahirkan tanpa separuh dari tangan kirinya.
Saat ibuku melahirkan dia, ibuku kaget dan menangis. Begitu pula aku dan ayahku.
Kami bertiga shocked saat mengetahui adikku dilahirkan tanpa separuh
dari tangan kirinya.
Seiring berjalannya waktu,
adikku tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik jelita, tetapi ia hidup tanpa
separuh dari tangan kirinya. Ia berbeda dengan teman-temannya. Seharusnya, usia
dia yang masih dini ini, ia bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Tetapi
sering kali saat ia mencoba berkenalan dengan teman-teman di sekitar rumah, ia
diolok-olok atau diejek-ejek dengan teman-temannya itu. Ia merasa malu dan
akhirnya ia pun tidak mau keluar dari rumah lagi.
Aku sebagai kakak kandungnya
pun merasa malu mempunyai adik seperti dia yang tidak sempurna. Kami bersekolah
di sekolah yang sama saat kami duduk di bangku SD. Adikku sering diolok-olok
temannya di sekolah. “Ada anak cacat, ada anak cacat” kata-kata ejekkan itu lah
yang sering adikku dengar dan terima dari mulut teman-temannya. Hampir
teman-teman satu kelasnya menjauhi dia. Hanya ada satu teman lah yang setia
menemani dia. Sering juga adikku menghampiriku saat kami berada di sekolah. Ia
memanggilku dengan panggilan “Kakak” dihadapan teman-temanku. Perasaanku waktu
itu adalah malu. Sampai pada akhirnya aku tidak mengakui dia sebagai adikku.
Tiap kali ia memanggilku “Kakak” dan dia datang menghampiriku, sering aku mengucapkan
kata-kata yang tak pantas aku ucapkan kepada dia. “Siapa kamu? Aku bukanlah
kakakmu! Aku tidak pernah punya adik seperti kamu! Dasar anak cacat! Pergi kamu
dari hadapanku!” Kata-kata itu yang aku ucapkan setiap aku didatangi oleh dia.
Kata-kata itu juga yang membuat adikku
menangis.
Begitu pula halnya dengan ayahku.
Ayahku adalah seorang Pegawai Negri Sipil. Bisa dikatakan ia menjabat sebagai
Lurah. Ia termasuk seseorang yang penting di kantornya. Ayahku pun malu
mempunyai anak yang tidak sempurna atau bisa dibilang cacat seperti adikku.
Setiap aku bersama adikku datang ke kantornya, adikku tidak diizinkan masuk ke
ruangannya oleh ayahku. Hanya aku yang diizinkan masuk, sementara adikku
menunggu di luar.
Suatu hari, adikku pernah
bertanya kepada ibuku….
“Ibu, mengapa ayah, kakak,
dan teman-temanku menjauhi aku? Apakah karena aku terlahir dengan tangan kiri
yang hanya separuh ini?” tanya adikku kepada ibu.
Dengan halus ibuku menjawab,
“Anak ibu yang cantik, apa yang sedang kamu hadapi ini adalah cobaan dari
Allah. Semua sudah diatur oleh Allah. Kamu memang tidak sempurna dimata mereka
semua, tapi dimata ibu kamu tetap seorang anak perempuan yang cantik dan
sempurna”
“Tetapi bu, sampai kapan aku
harus seperti ini? Aku juga ingin merasakan kasih sayang dari ayah dan kakak
kandungku. Aku juga ingin bermain bersama teman-temanku yang lain” kata adikku.
“Sayang, walaupun mereka
semua menjauhimu dan atau membencimu mungkin sampai akhir hayatmu, ingatlah ada
Ibu yang akan selalu di sampingmu. Tetaplah sabar menjalani semuanya, niscaya
Allah akan selalu memberimu kebahagiaan. Walaupun tidak sekarang di dunia ini”
tutur ibu dengan lembut.
“Baiklah Ibu. Jangan pernah
tinggalkan aku ya bu, karena hanya ibu dan seorang temanku sajalah yang mau
menerima aku apa adanya”, jawab adikku.
Setelah mendengar kata-kata itu, ibuku meneteskan air
matanya…..
***
Ibuku
sangat menyayangi adikku. Ia tidak merasa malu sedikit pun mempunyai anak yang
tidak sempurna seperti adikku. Bahkan kasih sayang ibuku kepada adikku lebih
besar daripada kasih sayang ibu kepadaku. Berbeda dengan ayahku, ayahku sangat
malu mempunyai anak yang cacat. Ia bahkan tidak menyayangi adikku, tetapi ia
sangaaat menyayangi aku. Walau aku dianak emaskan atau dibanggakan oleh ayahku,
terkadang aku juga iri jika melihat adikku selalu bersama ibu.
Adikku tidak sempurna,
tetapi disamping itu ia mempunyai kelebihan. Ia sangatlah cerdas. Ia selalu
menjadi juara di kelasnya. Bahkan jika dibandingkan denganku, aku kalah dengan
dia. Selain itu juga, adikku sangat rajin beribadah kepada Allah. Sedangkan
aku? Aku tidak cerdas, aku seorang anak yang bisa dikatakan sebagai golongan
anak yang bandel. Aku juga tidak rajin beribadah. Sering kali aku melupakan-NYA
saat aku sedang asik bermain bersama teman-teman. Adikku sering mengingatkanku
jika aku belum menunaikan solat lima waktu sebagai tanda sayangnya kepadaku,
tapi apa? aku malah tidak menghiraukannya.
Saat itu aku ingin sekali
memiliki sesuatu barang yang sangat aku sukai. Tetapi pada saat itu aku tidak
memiliki uang sepeser pun. Sampai pada akhirnya, muncul lah ide yang
sangat-sangat bodoh. Aku diam-diam masuk ke dalam kamar ayah dan ibu. Pada saat
itu, ibu sedang tidak berada di rumah dan ayah sedang bekerja di kantor, hanya
ada adikku di rumah. Aku dengan perlahan membuka laci di dalam lemari ayah dan
aku mengambil uang yang ada di dalamnya. Tanpa kusadari adikku mengintip dari
pintu kamar. Adikku mengetahui kejadian ini.
Malam harinya saat ayahku
telah pulang dari kantornya, ayahku membuka laci di dalam lemarinya. Ia hendak
mengambil uang. Ia segera menyadari bahwa ia kehilangan uangnya. Ayahku
mengumpulkan kami berdua di hadapannya. Ayahku saat itu marah, marah
semarah-marahnya.
“Siapa yang berani mengambil
uang ayah di laci?” dengan nada suara yang sangat teramat kuat.
Kami berdua terdiam dan merasa takut.
“Tidak
ada yang mau menjawab ternyata! Baiklah, ayah akan mengambil ikat pinggang
untuk memukul kalian berdua” kata ayah semakin marah.
“Tunggu
ayah! Aku lah yang mengambil uang ayah”, tiba-tiba adikku menahan ayah dan
bicara kepada ayah. Aku terkejut.
“Berani-beraninya
kamu! Sini ikut ayah, akan ayah pukuli kamu”, kata ayah marah kepada adik
sambil menyeret adikku dan ia segera memukuli adikku.
Aku
sedikit tidak tega melihat adikku seperti itu, tetapi semua sudah berlalu, dan
aku tidak berani mengakui kesalahanku.
Adikku
selalu mencari cara agar mendapatkan simpati dan kasih sayang dari ayahku.
Sehingga pada suatu hari, saat ayahku pulang dari kantornya. Adikku datang
menghampiri ayahku.
“Ayah,
ayah capek ya? Mau aku buatkan teh hangat untukmu?” tanya adikku kepada ayah.
“Boleh”,
ayahku menjawab dengan sangat sederhana.
Adikku
berlari ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk ayah. Aku
mengetahui hal ini. Saat adikku sedang membuatkan teh, ia pergi ke kamar mandi
untuk BAK. Aku pun mengeluarkan ide yang sangat bodoh. Saat adikku pergi ke
kamar mandi, aku memberikan garam di cangkir teh yang akan diberikan kepada
ayah.
Beberapa menit kemudian, adikku kembali ke dapur dan mengambil
teh itu dan segera memberikannya kepada ayah. “Hmmmm, pasti ayah sangat suka
dengan teh ini”, kata adikku perlahan. Setelah teh itu diberikan kepada ayah,
ayah pun meminumnya.
“Apa-apaan
ini? Teh macam apa yang asin seperti ini? Kamu mau mencoba meracuni ayah? Hah?”
tanya ayah kepada adik dengan nada membentak.
“Ah
ti…ti…tidak yah. Tadi aku tidak menambahkan garam sedikit pun ke dalamnya”
jawab adik memelas. Aku yang pada saat itu hanya memerhatikan dari jauh.
“Halah,
alasan saja kamu ini. Sudah sana masuk ke dalam kamar!”
Adikku langsung masuk ke kamarnya. Aku mengintip dari
jendela kamarnya. Ternyata dia sedang menangis dan menulis sebuah diary
miliknya. Aku melakukan hal bodoh itu karena aku takut ayahku nanti menyayangi
adikku. Apapun akan aku lakukan agar ayahku tidak menyayangi adikku. Tiba-tiba
saat adikku sedang menulis diarynya, ibuku masuk ke dalam kamarnya.
“Apakah
yang sedang kamu tulis sayang? Dan mengapa kamu menangis? Apakah yang terjadi?
Ceritakanlah kepada ibu anakku!” seru ibu.
“Aaaah
tidak bu bukan apa-apa kok. Hmmm, tidak ada apa-apa kok bu, tadi aku mengantuk
dan mengeluarkan air mata, sudah biasa kok itu bu, hehe” jawab adik menutupi
semuanya.
“Sudah
lah, jangan menutupi semuanya dari ibu. Jelaskan semuanya kepada ibu, anakku!”
desak ibu.
“Hmmmm,
baiklah akan aku ceritakan. Tadi setibanya ayah di rumah, aku menawarkan beliau
secangkir teh. Aku lalu berlari ke dapur untuk membuatkannya. Tetapi saat aku
sedang membuat itu, aku kebelet pipis dan aku pergi ke kamar mandi untuk buang
air kecil. Beberapa menit kemudian, aku kembali ke dapur untuk mengambil teh
itu dan membawakannya kepada ayah. Tiba-tiba ayah memuntahkan minuman itu, dan
ia bilang bahwa teh itu sangatlah asin. Aku bingung, padahal demi Allah aku
tidak menambahkan atau memberikan garam sedikit pun kedalamnya bu” jelas adik
sambil meneteskan air mata lagi.
“Oooh,
jadi begitu. Iya sayang, ibu juga yakin dan percaya kok kamu tidak melakukan
hal bodoh seperti itu. Sudah jangan menangis, sini ibu peluk dan cium kamu” ibu
mencoba menenangkan adik.
Aku sampai saat itu masih
melihat mereka dari jendela kamar adik. Aku iri sangat sangat iri melihat ibu
memeluk adikku. Sedangkan aku, aku tidak pernah dicium bahkan dipeluk pun itu
jarang, sangat jarang sekali malah hampir tidak pernah selama adikku tumbuh
besar. Itu sebabnya mengapa aku sangat membenci adikku saat itu. Ya karena dia
telah mengambil kasih sayang ibu.
Keesokan harinya……
Teeng…Teeeng…Teeeng…
bel berbunyi 3 kali, tanda istirahat. Aku dan teman-teman gengku keluar dari
kelas dan menuju kantin untuk membeli makanan. Saat itu aku lupa untuk membawa
uang. Tiba-tiba adikku datang dan menjulurkan tangannya di depanku. Di
tangannya terdapat selembar uang kertas bernilai lima ribu rupiah.
“Nih
kak, kakak lagi butuh uang kan? Nih ambil saja uangku. Aku ikhlas memberikannya
untuk kakak” kata adikku. Aku langsung merebut uang itu dari tangannya.
“Sini
berikan padaku! Sudah sana kamu pergi! Kamu bukan adikku” kataku sambil
mengusir adikku pergi. Ia kemudian pergi
keluar dari kantin.
Pada
saat bel berbunyi tanda anak-anak boleh pulang ke rumah, aku sedang duduk di
bangku taman bersama teman-temanku, adikku tiba-tiba datang dan langsung
memeluk diriku sambil berkata “Kak, tolong aku, aku diejek-ejek oleh teman-temanku”.
Aku kaget dan aku bingung apa yang harus aku lakukan. Jika aku menolong adikku
nanti aku ditertawakan oleh teman-temanku. Tetapi kalau aku tidak membantu
adikku, aku adalah seorang kakak yang sangat jahat di dunia ini. Tiba-tiba aku
melepaskan adikku dari pelukanku dan tanpa sengaja adikku terdorong dan
terjatuh. Tetapi sungguh aku tidak ada niatan untuk membuat dia terjatuh. Tetapi
apa boleh buat, adikku terlanjur jatuh dan aku tidak mungkin menolongnya
dihadapan teman-temanku. Adikku pun langsung berlari pulang ke rumah sambil
menangis. Adikku pun masuk ke kamarnya dan seperti biasa, dia menulis di diary
kecilnya. Aku saat itu benar-benar dalam keadaan bingung. Disisi lain, aku
tidak mau melukai adikku kesekian kalinya, tetapi disisi lain aku pun tidak mau
memalukan diriku sendiri dihadapan teman-temanku karena memiliki adik yang
tidak sempurna atau cacat seperti dia.
Selama beberapa tahun aku
melakukan hal seperti itu terus dan terus kepada adikku. Menyakiti adikku,
mengolok-olok adikku di depan teman-temanku, membuat adikku menangis, dan
lain-lain. Tetapi, adikku tidak pernah mengeluh, kesal atau membenciku sedikit
pun walaupun aku sudah berlaku jahat kepadanya.
Dia hanya menyimpannya sendiri.
Suatu hari, aku tiba-tiba jatuh sakit dan koma selama 3 hari. Aku tidak mengetahui penyakit yang aku derita saat itu. Kata dokter aku memerlukan donor darah. Aku memerlukan pendonor yang bergolongan darah O, karena golongan darahku adalah O. Dan jikalau aku tidak mendapatkan darah itu, maka aku tidak akan tertolong dan nyawaku akan melayang. Ayah, ibu dan adikku lalu mengetes golongan darah mereka masing-masing dan siapa saja yang hasilnya cocok akan menyumbangkan darahnya untukku. Ayah sangat khawatir dengan keadaanku. Ayah juga sangat resah sekali menunggu hasil tes darah itu. Hasilnya pun akhirnya keluar, dan ternyata darah yang cocok dengan darahku adalah darah adikku. “Aku siap kok bu mendonorkan darahku untuk kakakku”, kata adikku bilang kepada ibu. Siangnya langsung dengan ikhlas adikku diambil darahnya untuk diberikan kepadaku. Alhamdulillah, keesokan harinya aku telah sadar dari koma. Adikku bilang kepada ibu dan ayah untuk merahasiakan semuanya dariku. Aku pun yang pada saat itu tidak mengetahui hal ini sama sekali.
Suatu hari, aku tiba-tiba jatuh sakit dan koma selama 3 hari. Aku tidak mengetahui penyakit yang aku derita saat itu. Kata dokter aku memerlukan donor darah. Aku memerlukan pendonor yang bergolongan darah O, karena golongan darahku adalah O. Dan jikalau aku tidak mendapatkan darah itu, maka aku tidak akan tertolong dan nyawaku akan melayang. Ayah, ibu dan adikku lalu mengetes golongan darah mereka masing-masing dan siapa saja yang hasilnya cocok akan menyumbangkan darahnya untukku. Ayah sangat khawatir dengan keadaanku. Ayah juga sangat resah sekali menunggu hasil tes darah itu. Hasilnya pun akhirnya keluar, dan ternyata darah yang cocok dengan darahku adalah darah adikku. “Aku siap kok bu mendonorkan darahku untuk kakakku”, kata adikku bilang kepada ibu. Siangnya langsung dengan ikhlas adikku diambil darahnya untuk diberikan kepadaku. Alhamdulillah, keesokan harinya aku telah sadar dari koma. Adikku bilang kepada ibu dan ayah untuk merahasiakan semuanya dariku. Aku pun yang pada saat itu tidak mengetahui hal ini sama sekali.
Pada
saat pergantian semester tiba. Tiba saatnya aku menggunakan seragam putih biru.
Ya masuk sekolah baru. Alhamdulillahnya aku tidak bertemu dengan adikku dan pastinya aku tidak akan malu lagi
sekarang. Aku sangat senaaaaang sekaliii. Saat itu umurku 11 tahun hampir 12
tahun dan adikku berumur 10 tahun, sekarang aku duduk di bangku SMP kelas 1 dan
adikku masih duduk di bangku SD kelas 5.
Beberapa bulan kemudian, setelah pergantian semester…….
Adikku sekarang berubah
menjadi kurus. Rambutnya tipis karena rontok. Entah mengapa dia sering
mengeluarkan darah dari hidungnya. Ibu sangat khawatir dengannya. Suatu hari
ibu mengajak adikku pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatan dia. Ternyata
dokter mengatakan bahwa, adikku terkena penyakit KANKER yang saat itu sudah masuk
ke stadium 3. Tanpa ibu dan adikku sangka dan sadari. Dan dokter mengatakan bahwa
adikku harus rajin menjalankan khemoterapi. Adikku hanya mampu bertahan
beberapa bulan atau tahun lagi. Ibuku kaget, bingung, dan hanya menangis dan
terus menangis. Pilihan itu sangatlah berat. Adikku juga kaget, dia menangis
sambil tersenyum mencoba menenangkan ibuku. Saat itu hanya ibuku saja yang
tahu.
Ibu memilih agar adikku
menjalankan khemoterapi. Baru 2 kali menjalankan khemoterapi, adikku memilih
berhenti. Karena ia tidak kuat. Dari hari ke hari, rambut adikku semakin tipis.
Ayah yang sibuk dengan kerjaannya yang sering pulang-pergi keluar kota tidak
memerhatikan perubahan yang terjadi pada anaknya. Aku yang tidak peduli
terhadap adikku pun tidak memerhatikan perubahan dia. Hal ini hanya ibu yang
mengetahuinya. “Bu, tentang hal ini aku mohon ibu jangan beri tahu siapa-siapa
ya, terutama kepada kakak” pinta adik. Ibu hanya menganggukkan kepala. Tetapi
ibu tak kuasa menahan uneg-unegnya. Akhirnya beberapa minggu kemudian, ibu
menceritakan semuanya kepada ayah. Ayah sungguh sungguh kaget mendengar kabar
dari ibu. Di tempat itu pula ayah meneteskan air mata pertamanya untuk adikku.
Saat itu pula ayah sadar dan mulai menyayangi adikku sebelum semuanya
terlambat. Mereka semua menyembunyikan hal ini di belakangku.
Seiring berjalannya waktu,
adikku semakin tersiksa. Dia sampai-sampai memilih untuk tidak sekolah. Dia
malu jika seandainya dia sering mengeluarkan darah dari hidungnya. Ibu pun
mengizinkan dia untuk berdiam di rumah. Tujuannya agar ia bisa beristirahat.
Pada
tanggal 5 Agustus, itu merupakan hari ulangtahun. Usiaku saat itu adalah 12
tahun. Ayah memberikan aku hadiah sebuah handphone BlackBerry yang saat ini
sedang menjadi trend anak muda. Ibu membelikan aku hadiah beberapa pasang baju.
Dan adikku memberikan sebuah poto lukisan hasil karya dia sendiri. Adikku
sangat berbakat dalam bidang menggambar, mewarnai, atau melukis. Di lukisan itu
ia menggambarkan dia sedang bersamaku di sebuah bukit dan kami sedang menikmati
sun set. Aku sangat senang mendapat hadiah-hadiah dari mereka.
Suatu
hari, adikku menitipkan sebuah diary kecilnya yang ia bungkus dengan rapih
dengan menggunakan kertas kado berwarna merah kepada ibuku.
“Ibuu….
Aku boleh menitipkan sesuatu kepada ibu?” tanya adikku.
“Boleh
sayang. Apa yang ingin kamu titipkan kepada ibu sayang?” tutur ibu dengan lemah
lembut.
“Aku
ingin menitipkan bungkusan ini untuk kakak. Dan aku menitipkan pesan agar kakak
membuka bungkusan ini dan membacanya di depan jasadku yang terbaring kaku
dihadapan kalian jika tiba waktunya Allah akan menjemputku. Tolong ya bu….”
jelas adik.
Ibu terdiam dan meneteskan air mata..
“Loh,
ibu mengapa menangis?” tanya adik.
“Nggak
apa-apa kok sayang” jawab ibu.
“Aku
membuatmu sedih ya bu? Aduuuh, maafkan aku ya bu. Aku mohon ibu jangan menangis
dan sedih lagi ya. Please buu hapus airmata mu” pinta adik.
“Iya
sayang (sambil mengelap air mata di pipinya)” jawab ibu.
“Sungguh
engkau anak yang baik, cantik, sholehah, cerdas, dan penyabar ya sayang. Ibu
sangat bangga memiliki anak seperti dirimu” puji ibu.
“Aaaah,
ibu bisa saja iih. Hehehehe” tutur sang adik.
Sebulan
setelah percakapan ibu dan adik tersebut, adik tiba-tiba sakit dan harus
dirawat di rumah sakit. Ia pun mengalami koma selama satu minggu. Ibu sangat
sangat mengkhawatirkan adik. Ayah pun juga sangat begitu mengkhawatirkan adik.
Akhirnya adik pun terbangun dari koma. Ia sudah susah untuk berbicara. Dia
menggunakan papan tulis untuk berkomunikasi. Ia menulis di papan tulis “Bu,
tolong ambilkan secarik kertas dan sebuah pena, adik ingin menulis sebuah surat
untuk kakak”. Ibu pun mengambilkannya untuk adik. Adik pun menulis surat untuk
kakak. Tetapi, karena ia tak mampu menulis, ia meminta bantuan ibu untuk
menuliskannya. Dan adik bilang surat itu diberikan pada saat bersamaan dengan
bungkusan waktu itu. Aku pulang dari sekolah langsung ke rumah sakit untuk
menjenguk adik. Adikku tersenyum bahagia kepadaku. Aku pun tersenyum bahagia
juga kepadanya. Aku berkomunikasi dengannya menggunakan papan tulis. Dia bilang
“Kak, jikalau kakak ingin meminta maaf kepadaku, aku sudah memaafkan kakak
terlebih dahulu”. Aku meneteskan air mata saat itu juga. Tak kuasa aku menahan
tangis jika membayangkan beberapa kesalahan yang telah kuperbuat kepadanya. Tak
beberapa lama saat kita sedang berkomunikasi, adikku menghembuskan nafas
terakhirnya dengan tersenyum. Akuuu menangis menjerit-jerit, memeluk adikku
dengan erat, dan menciumnya.
Jenazah
adikku segera dibawa pulang ke rumahku. Setelah dimandikan, jasadnya pun
ditempatkan di ruang tengah. Di hadapan jasad adikku ibu menyerahkan bungkusan
dan surat itu.
“Nak, sebulan sebelum adikmu
pergi, ia menitipkan ini untukmu kepada ibu” jelas ibu sambil tersedu-sedu.
“Apa ini bu?” tanyaku sambil
memelas.
“Ibu juga tidak tahu isi di
dalamnya. Tetapi yang satu ini adalah surat. Ia meminta bantuan ibu menuliskan
surat ini. Iya juga menitipkan pesan bahwasannya, surat dan isi di dalam ini
harus dibaca di depan jasadnya” jelas ibu.
Aku pun menerima itu dari tangan ibu. Tanpa berfikir
panjang, aku pun membaca isi surat itu.
Isi dari surat itu adalah :
Assalamu’alaikum
kakak…..
Kak, mungkin ini yang terakhir kalinya aku
berkomunikasi dengan kakak. Aku ingin kakak mengetahui bahwa aku sangat-sangat
mencintai dan menyayangi kakak. Saat kakak sakit dan butuh donor darah, aku
yang mendonorkan darahku untuk kakak dengan ikhlas. Aku sengaja merahasiakan
ini dari kakak. Terus, hadiah yang aku berikan berupa gambar itu merupakan hal
yang paliiing aku ingin lakukan bersama kakak sebelum aku meninggalkan kakak
pergi selamanya, tapi sengaja aku tidak menuliskan apapun, biarkan itu menjadi
mimpiku di surga nanti bersamamu. Mungkin akan lebih indah dari apa yang aku
bayangkan. Selanjutnya kakak baca di diary kecilku yang aku bungkus dengan
kertas kado warna merah ya kak.
Salam
manis yang terakhir,
Adikmu
yang selalu mencintaimu
Aku meneteskan air mata yang begitu deras saat itu.
Lalu kemudian aku membuka bungkusan berwarna merah. Ternyata di dalamnya
terdapat diary kecil yang selama ini dia tulis. Lembar demi lembar kubaca diary
itu. Di dalam diary itu tertulis tentang aku dan ayahku saja dari halaman depan
sampai belakang.
Beberapa isi dari diary kecilnya yang aku baca, antara
lain :
“Dear diary, kenapa ya aku dibenci sama kakak, ayah,
dan teman-temanku? Apakah karena kekuranganku ini? Tapi, tak apalah, semua kan
udah diatur sama Alloh” , “Dear diary, hari ini aku udah menjadi anak yang
baik. Aku mengorbankan diriku demi kakak yang paling aku sayang. Aku gak papa
deh sakit-sakit begini, yang penting kakak ku bisa bahagia” , “Dear diary, aku
bingung kenapa ya minuman yang aku bikin bisa asin begitu? Lagi-lagi aku
membuat ayahku kecewa. Huuft” , “Dear diary, hari ini kakak aku melukai hatiku
lagi. Dia mendorongku sampai terjatuh, tapi aku yakin, dia gak mungkin berniat
seperti ini kepadaku” , “Dear diary, hari ini kakak ku baru sadar dari koma,
aku senang deh bisa menyelamatkan jiwa kakak tersayangku. Semua ini demi dia
bahagia” , “Dear diary, hari ini kakakku ulang tahun, aku mau memberikan hadiah
hasil karyaku sendiri aah” ,
“Dear diary, hari ini aku ingin memeriksakan kesehatan
aku ke dokter bersama ibu. Semoga tidak ada apa-apa ya, amiin” , “Dear diary,
ternyata aku mengidap KANKER stadium 3. Lagi-lagi aku membuat ibuku meneteskan
air mata karena aku, aah payah” , “Dear diary, hari ini aku mau menjalani
khemoterapi untuk pertama kalinya, bismillah” , “Dear diary, hari ini khemo
yang kedua. Dan ini yang terakhir kalinya, selanjutnya aku gamau lagi” , “Dear
diary, mungkin ini aku menulis untuk terakhir kalinya. Selanjutnya aku
menitipkan dirimu kepada kakakku ya. Baik-baik ya kamu, jangan ganggu kakakku,
sayangi dia seperti aku menyayanginya.” .
Itu lah beberapa tulisan yang ia tulis di diary kecil
itu. Selanjutnya aku membuka lembaran belakang, dan ternyata ada selembar
surat, yang isinya :
Kakak…..
Dirimu orang yang paling aku sayang setelah ibu. Aku
tau kakak pasti malu kan punya adik cacat seperti aku? Kalau aku jadi kakak,
mungkin aku merasakan hal yang sama seperti kakak. Banyak sekali hal-hal yang
ingin aku lakukan di dunia ini bersama kakak. Tetapi, Allah telah menentukan
jalan hidupku seperti ini. Oh iya, aku punya pesan buat kakak. Kakak jangan
jadi pembohong lagi ya, dosa tau kak. Terus, kakak jangan nakal-nakal lagi,
rajinlah beribadah dan selalu mengingat Allah. Belajar kak dengan rajin, aku
yakin kakak bisa jadi lebih baik dari aku kok. Terus aku nitip ibu dan ayah ya
kak. Aku sangat mencintai mereka, hanya kakak yang bisa aku percaya buat
ngejagain mereka. Tetap jadi orang yang penyabar ya kak. Dulu ibu pernah bilang
“Tetaplah sabar menjalani semua ini. Niscaya Allah akan memberikanmu
kebahagiaan walau tidak di dunia ini”. Oh iya satu lagi, kakak jangan khawatir,
kesalahan-kesalahan yang sudah kakak lakukan terhadapku, udah aku maafkan kok
sejak dulu. Oke kak, aku sangat menyayangi kakak. Aku tunggu dirimu di syurga
ya kak. Amiiin
Adikmu,
seorang yang cacat
Lembar demi lembar telah kubaca halaman dari diary
itu. Beberapa halaman membekas setetes darah. Akuu amat teramat sangat
menyesali perbuatanku selama ini. Sungguh aku tidak layak menjadi seorang
kakak. Akhirnya, selesai aku membaca diary kecil itu, jasad adikku pun dibawa ke
masjid untuk disholatkan dan dibawa ke TPU untuk dikuburkan.
Keesokan
harinya setelah adikku dikuburkan, ibu menjelaskan semuanya kepadaku. Aku tidak
mengetahui bahwa adikku mengidap penyakit KANKER stadium 3 dan mungkin saat ia
menghembuskan nafas terakhirnya ia sudah masuk ke stadium 4. Saat itu pula aku
menjelaskan apa yang selama ini telah aku perbuat kepada ayahku.
“Ayah,
aku ingin menjelaskan sesuatu. Sebetulnya, yang mengambil uang ayah waktu itu
bukan dia (adikku), tapi aku. Dan selanjutnya, yang memberikan garam di
minumanmu bukanlah dia (adikku), tapi aku. Saat itu aku benar-benar bodoh ayah,
aku tak mau kehilangan kasih sayang ayah jika adik berbuat yang baik-baim kepada
ayah. Maafkan akuu a…aa…ayah…” jelasku sambil menangis tersedu-sedu.
“Semua
sudah terlambat sayang. Adikmu telah pergi meninggalkan kita selamanya. Ayah
sudah memafkan kalian semua” tutur ayah lembut.
“Te…te…terima
kasih ayah” jawabku.
Iya, itu ceritaku 8 tahun yang lalu. Sekarang, adikku
sudah hidup bahagia di syurga. Aku akan selalu mengingat pesan-pesan dari
adikku yang ia tuliskan di buku diary kecilnya.
“Adikku, hari ini adalah hari ulang tahunmu. Aku
akan mengirimkan do’a sebagai hadiah untukmu. Maafkan aku selama ini telah
jahat kepadamu. Aku berharap dirimu bahagia di syurga-Nya, amiiin. Aku sangat
mencintaimu, adik kecilku”
Komentar
Posting Komentar